Post Details

research
  • 17 Feb 2021

FREEDOM TO DAN SKB 3 MENTERI

By : Adriano Rusfi (Konsultan Pendidikan Keluarga)

Tiga menteri berkumpul, dan itu cukup untuk membawaku menerawang ke 39 tahun silam. Sebuah pelatihan delapan hari oleh Pelajar Islam Indonesia (PII) membawaku ke sebuah medan juang : memayungi para pelajar putri yang ingin menutup auratnya sambil berseragam. Mereka hanya ingin memulihkan kehormatannya, lalu harus berlari adu cepat dengan Kepala Sekolah atau Guru BK yang memburunya atas nama peraturan entah nomer berapa.

Tiba-tiba aku rindu dengan romantika ketika itu… Kubuat Petisi-20, atas nama 20 anggota Rohis untuk Kepala Sekolahku. Ku berdemo di depan Kanwil P&K DKI Jakarta bersama akrabku almarhum Sutarjo Abdurrahim, dipimpin almarhumah Yoyoh Yusroh. Kudatangi beberapa ayahbunda agar ridha putrinya berjilbab… Lalu mendadak aku telah bergelar ekstremis dan harus berurusan dengan Koramil Tebet… Kurindu dengan romantika itu, konon karena manusia 50 tahun-an kambuh lagi idealisme dan militansinya…

Sering kusebut Pasal 29 UUD 45 untuk membela kawan-kawan dan adik-adik putriku… Nurani Kepala Sekolah menerimanya, namun jabatannya menolaknya. Beliau menolak untuk jadi pahlawan bagi agamanya, namun mungkin belakangan menjadi sesalan kala menjadi Direktur Pendidikan sebuah Yayasan Pendidikan Islam raksasa kelas atas. Tak dinyana, beberapa hari lalu SKB 3 Menteri gunakan pasal yang sama untuk mengekang kewajiban beragama… Sebuah Pasal yang ayat duanya berbunyi :

“Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk UNTUK beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu” (UUD 45 Pasal 29 ayat 2)

Dan dengan tafsir janggal, pasal ini dipelintir untuk berkata durhaka : “Merdeka artinya boleh melakukan atau tidak melakukan… Merdeka artinya boleh taat atau boleh tak taat”…

Lagi-lagi tafsir janggal itu membawaku ke masa lalu, ke masa kuliahku, kala aku belajar tentang Erich Fromm, seorang Psikoanalis asal Jerman… Ia bercerita dalam “Escape from Freedom” tentang “Kemerdekaan Untuk” (Freedom To)… “Freedom to adalah kemerdekaan untuk memilih, untuk melaksanakan diantara pilihan-pilihan yang tersedia… Freedom To adalah Positive Freedom, ketika kita memilih dalam  bingkai koridor…”, katanya… Lalu ia bedakan dengan Freedom From : “Freedom From adalah Negative Freedom, ketika atas nama kebebasan ia ingin keluar dari koridor”

Maka aku ingin bertanya pada Pakbapak Menteri Nan Tigo : Apakah Pasal 29 ayat (2) berbicara tentang “Kemerdekaan untuk…” (Freedom To), atawa tentang “Kemerdekaan dari…” (Freedom From) ???... Apakah kebebasan beragama adalah kebebasan untuk menjalankan perintah agama, dan memilih varian-varian yang ada di dalamnya (freedom to), atau kebebasan dari melaksanakan ajaran agama dan lari daripadanya (freedom from) ???... Kalian penganut Positive Freedom atau Negative Freedom ???

Pakbapak Menteri, agama Islam adalah agama yang punya banyak varian fiqh. Maka ada KEBEBASAN UNTUK memilih varian. Silakan memilih madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i atau Hambali, tapi bukan BEBAS DARI madzhab… Pakbapak Menteri, Islam memberikan KEMERDEKAAN UNTUK memakai hijab hitam, putih, bercadar, abaya atau baju kurung kepada perempuan mukallaf, tapi BUKAN KEMERDEKAAN DARI menutup aurat… Kami tak dipaksa memilih Islam. Tapi kalau memilih Islam ya WAJIB TAAT !!!

Pakbapak Menteri, sebentar lagi kami akan memasuki Ramadhan. Kami memiliki kemerdekaan untuk Shalat Tarawih di rumah atau di masjid… Kami memiliki kemerdekaan untuk Shalat Tarawih 11 rakaat atau 23 rakaat… Bahkan kami memiliki kemerdekaan untuk tidak Shalat Tarawih. Tapi kami tak bisa bebas dari Ramadhan, atau bebas dari shaum, atau bebas dari makan-minum-seks di siang hari… Dan semua itu dijamin oleh Pasal 29 ayat (2) UUD 45 tentang KEMERDEKAAN UNTUK beragama.

Pak Gerombolan Menteri… Bolehkah kami merdeka DARI mentaati atau tak mentaati SKB 3 Menteri anda ?

Bah… palak awak dibuatnya… Mana itu adik-adik atau anak-anakku dari PII ?... Mainkanlah bugih lamo tu