Post Details

research
  • 06 Jun 2021

Lebay Label

Seorang istri meminta suaminya agar lebih lembut dalam bicara, mau lebih peka mendengarkan perasaan istrinya, lebih santuy pada istrinya.
>> Jawaban suaminya, istrinya diminta memahami gayanya, "kamu kan tahu, saya ini tidak bisa lembut, sejak dulu saya kan tipikal Umar bin Khottob RA alias tempramental?"

Seorang istri meminta suaminya, agar sebagai qowam dan imam, agar lebih tangguh dalam memimpin keluarga, mendidik anak juga bisnis.
>> Jawaban suaminya, istrinya diminta memahami personality nya, "kamu kan tahu, saya ini plegmatis bukan koleris, jadi pahami kepribadian saya"

Seorang istri meminta suaminya agar memiliki misi keluarga yang ajeg, tegas dalam memperjuangkannya, menuntun anak istrinya menjalankan misi keluarganya.
>> Jawaban suaminya, istrinya diminta memahami bakatnya, "kamu kan tahu, saya ini tidak memiliki potensi kekuatan sebagai commander, juga bukan orang yang berbakat stratgis, saya tipe eksekutor, jadi sampai kapanpun saya ga akan mampu membuat misi keluarga"

_

Tiga cerita sederhana di atas menggambarkan betapa kita seringkali membenturkan fitrah kita dengan label label, topeng topeng karakter, personality, bakat dstnya yang merupakan buatan manusia, yang sifatnya kira kira dan belum pasti sehingga justru meninggalkan fitrah itu sendiri, termasuk fitrah keayahbundaan.

Label label di atas sebenarnya dibuat manusia untuk mengetahui bagaimana tipe atau gaya manusia dalam mencapai sesuatu. Lalu mereka yang dilabel justru terjebak pada egocentric, menganggapnya label itu adalah dirinya yang sesungguhnya dan dijadikan alat untuk bersembunyi dari peran fitrahnya.

Padahal bisa jadi apa yang nampak itu dan dilabel itu sesungguhnya bukan sifat uniknya, tetapi karena salah asuh atau traumatis atau ada fitrah yang tak tumbuh baik. Contoh ekstrem nya misalnya pada fitrah seksualitas, apakah seorang lelaki yang aktifitasnya, gayanya, tindak tanduknya, fashion sangat feminim, lalu bisa dilabel sebagai perempuan? Jadi observasi aktifitas saja bisa bias apabila tak menelusuri sifat dasarnya.

Saya tidak menolak bahwa manusia punya sifat unik, namun sifat unik atau potensi unik, jangan sampai membuat seseorang malah mengabaikan fitrah lainnya. Seorang yang dinilai bahwa kepribadiannya atau bakatnya tidak relijius, lalu dengan mudah bisa mengatakan saya memang tipe orang yang bukan agamis atau kurang spiritual. Lho?

Fitrah itu justru sifat dasar spiritual, maka aneh kalau urusan spiritual dianggap keunikan atau dibenturkan dengan sfiat unik. Ini contoh saja.

Jadi pertama, seseorang harus berusaha kembali kepada fitrah sejatinya, karena bisa jadi pola asuh atau pendidikan atau lingkungan menyimpangkan fitrahnya. Seorang ayah yang kurang keayahan, harus kembali pada fitrah keayahannya. Seorang ibu yang kurang keibuan, harus kembali kepada fitrah keibuannya.

Kedua, letakkan fitrah pada tempatnya, misalnya bakat, ini fitrah juga, namun gunakan dalam kehidupan karir atau bisnis, namun jangan dibenturkan pada kehidupan keluarga. Seorang ibu sehebat apapun bakat pemimpinnya, dalam kehidupan keluarga ia tetap makmum yang setia, lembut penuh cinta, gunakan bakat itu pada kehidupan profesi saja.

Seorang ayah betapapun bakatnya sangat melow, baperan, sensitif, cengeng dll gunakan saja pada profesinya sebagai penulis novel atau pencipta lagu sedih dll, namun di rumah atau kehidupan keluarga tetap ia harus kepada fitrah seorang imam yang tangguh dan tegas

Silahkan direnungkan...

#fitrahbasedlife